Jumat, 12 Oktober 2012

KEPERAWATAN TRANSKULTURAL



KEPERAWATAN TRANSKULTURAL

Konsep etnik dan budaya
Etnik adalah seperangkat kondisi spesifik yang dimiliki oleh kelompok tertentu. Sekelompok etnik adalah sekelompok individuyang mempunyai budaya dan sosial yang unik serta menurunkannya pada generasi berikutnya (herderson & primeaux, 1981). Sedangkan ras adalah merupakan sistem pengklasifikasian manusia berdasarkan karakteristik fisik, pigmentasi, bentuk tubuh, bentuk wajah,bulu pada tubuh, dan bentuk kepala.
Budaya adalah keyakinan dan perilaku yang diturunkan atau diajarkan manusia kepada generasi berikutnya (Taylor,1989). Pendapat yang lain dari pengertian sebuah budaya adalah sesuatu yang kompleks dan mengandung pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, kebiasaan, dan kecakapan lain yang merupakan kebiasaan manusia sebagai anggota komunitas (Sir Edward Taylor,1871), dalam Andrew & Boyle,1995. Budaya yang telah menjadi kebiasaan ini diterapkan dalam asuhan keperawatan transkultural , melalui tiga strategi utama intervensi , yaitu mempertahankan, menegosiasi, dan merestrukturisasi budaya.

Konsep Dasar Keperawatan
Pengertian
Kepercayaan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada analis dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya (Leininger,1978). Perawatan transkultural ini diberikan pada klien untuk mempertahankan dan meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan budaya yang dimiliki klien,serta ditambahkan dengan konsep dasar keperawatan. Pelayanan keperawatan transkultural ini diberikan kepada klien seuai latar belakang budayanya.
Tujuan
Tujuan dari pemberian keperawatan transkultura ini adalah untuk mengembangkan sains dan pohon keilmuan, sehingga tercipta praktik keperawatan pada kultur yang spesifik dan universal (Leininger,1978). Yang dimaksud dengan kultur spesifik adalah kultur dengan nilai-nilai dan norma spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok lain, contohnya adalah bahasa. Sedangkan yang dimaksud kultur universal nilai- nilai dan norma yang diyakini dan dilakukan oleh semua kultur, contohnya adalah budaya berolahraga agar tubuh tetap sehat dan bugar.
Paradigma keperawatan transkultural
Paradigma keperawatan transkultural adalah cara pandang ,persepsi, keyakinan, nilai- nilai, dan konsep dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral, yaitu manusia, keperawatan, kesehatan, dan lingkungan (Leininger,1984, Andrew & Boyle,1995, & Barmin,1998).
Dalam perawatan transkultural terdapat pengkajian, pengkajian ini adalah suatu proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasikan masalah kesehatan klien sesuai latar belakang budaya (Andrew & Boyle,1995).
Dalam proses pengkajian ini terdapat beberapa point penting diantaranya:
a.       Pemanfaatan teknologi kesehatan
Teknologi kesehatan adalah sarana yang memungkinkan manusia untuk memilih atau mendapat penawaran dalam penyelesaian masalah kesehatan (Loedin,2003). Pemanfaatan teknologi kesehatan ini dipengaruhi oleh sikap tenaga kesehatan,kebutuhan serta permintaan masyarakat. Sehingga peran perawat dalam perawatan transkutura ini,adalah mengkaji persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, persepsi sehat- sakit, kebiasaan berobat atau cara mengatasi masalah kesehatan. Contohnya adalah klien mempunyai alasan tidak mau memakan makanan yang mengandung protein yang tinggi seperti daging,telur dan susu, setelah pasien tersebut mengalami operasi.
b.      Agama dan filosofi
            Agama adalah suatu sistem simbol yang berkontribusi terhadap pandangan dan motivasi yang amat realistis(uniquely realistic)baagi para pemeluknya. Perawat perlu mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan klien, seperti agama yang dianut, kebiasaan pemeluk agama yang berdampak positif terhadap kesehatan serta cara klien beradaptasi terhadap situasi saat ini.
c.       Kekeluargaan dan sosial
            Keluaga adalah dua orang individu atau lebih yang bergabung karena ikatan tertentu untuk berbagai pengalaman dan emosi serta mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari keluarga (Friedman, 1998). sosial adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan perilaku intrerpersonal atau yang berkaitan dengan proses sosial (Soekanto,1983) faktor keluarga dan sosial yang perlu dikaji oleh perawat, yaitu nama lengkap dan nama panggilan termasuk marga bila ada, usia,atau tempat dan tanggal lahir.
d.      Nilai-nilai budaya dan gaya hidup
            Nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut  budaya yang baik atau buruk (Soekanto, 1983). Norma adalah aturan sosial atau patokan perilaku yang dianggap pantas. Nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini oleh individu tampak di dalam masyarakat sebagai gaya hidup sehari-hari (Meyer, 2003).
Hal-hal yang perlu berkaitan dengan nilai-nilai dan budaya dan gaya hidup adalah posisi atau jabatan, misalnya ketua adat atau direktur, bahasa yang digunakan,pantangan terhadap makanan tertentu, kebiasaan yang sering dilakukan.
e.       Kebijakan dan aturan rumah sakit yang berlaku
            Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dan kelompok dalam asuhan keperawatan transkultural (Andrew & Boyle, 1995). Misalnya, peraturan atau kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, klien harus memakai baju seragam, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, hak dan kewajiban klien dalam perjanjian dengan rumah sakit, serta cara klien membayar perawatan di rumah sakit.
f.       Status ekonomi klien
            Ekonomi adalah usaha-usaha  manusia untuk memenuhi kebutuhan material dari sumber-sumber yang terbatas (Soekanto, 1982).klien yang dirawat dirumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayain sakitnya agar segera sembuh. Sumber yang umumnya dimanfaatkan oleh klien misalnya asuransi. faktor ekonomi yang perlu dikaji oleh perawat, antaralain pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, kebiaasaan menabung, dan jumlah tabungan dalam sebulan.
g.      latar belakang pendidikan klien
            Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendididikan formal tertinggi saat ini. Dalam menempuh pendidikan formal tersebut klien mengalami suatu proses`eksperimental. Proses experimental adalah suatu proses menghadapi dan menyelesaikan masalah yang dimulai dari keluarga, kemudian dilanjutkan kependidikan diluar keluarga (Leininger, 1978; Ardhana,1986).
Perawat dapat menkaji latar belakang pendidikan klien yang meliputi tingkat pendidikan klien yang meliputi tingkat pendidikan klien dan keluarga, kemampuan klien menerima pendidikan kesehatan, serta kemampuan klien belajar serta mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
h.      diagnosa keperawatan
            Diagnosa keperawatan adalaha respon klien sesuai dengan latar belakang budayanya yang dapat dicegah, dibah, atau dikurangi melalui intervensi keperawatan (Andrew & Boyle, 1995 ; Ginger Davidhizar, 1995 ; Potter & Perry, 1997). Perawat dapat melihat respon klien dengan cara mengidentifikasi budya yang mendukung kesehatan, budaya yang menurut klien pantang untuk dilanggar, serta budaya yang bertentangan dengan kesehatan.
i.        Perencanaan dan Implementasi
            Perencanaan dan implementasi adalah suatu proses memilih strategi keperawatan yang tepat dan melaksanakan tindakan sesuai dengan latar belakang budaya klien (Andrew  Boyle, 1995; Ginger Davidhizar, 1995). Perencanaan dan implementasi perawatan transkultural menawarkan tiga strategi sebagai pedoman (Leninger, 1984 ; Ginger Davidhizar, 1995) yaitu :
1)        Mempertahankan budya bila budya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan
2)        Negoisasi budaya, yaitu intervensi keperawatan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya
3)        Retrukturasi budaya klien karena budaya yang dimiliki saat ini bertentangan dengan kesehatan.
Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat-klien yang bersifat teraupetik. Hubungan perawat-klien yang bersifat teraupetik akan menciptakan kepuasaan klien dan membangkitkan energi kesembuhan. (McClokey & Grace, 2001)
j.        Evaluasi
            Evaluasi adalah sekumpulan metode dan keterampilan untuk menentukan kegiatan yang dilaksanankan sesuai dengan yang direncanakan dan memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan individu (Posavac, 1980 dalam Sahar, 1998).
            Evaluasi keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien dalam mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, negoisasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatanbdan restrukturasi budaya yang bertentangan dengan kesehatan.
k.      Kompetensi budaya
            Kompetensi budaya adalah seperangkat perilaku, sikap, dan kebijakan yang bersifat saling melengkapi dalam suatu  sistem kehidupan sehingga memungkinkan untuk berinteraksi secara efektif dalam suatu kerangka berhubungan antarbudaya didunia (Cross,T.et al,1989). Asuhan keperawatan yang berbasis kompetensi budaya memungkinkan perawat sebagai petugas kesehatan mengelola secara utuh elemen-elemen pelayanan kesehatan di keluarga, termasuk mengelola hambatan atau tantangan ditingkat instituisional.
l.        Bahasa
            Bahasa yang digunakan dalam komunikasi lintas budaya perlu mendapat perhatian khusus. Bahasa ditanah jawa umunya bertingkay-tingkat bergantung dari lawan bicara yang dihadapi.

Budaya dan makanan
            Budaya dan makanan memiliki hubungan yang sangat erat. Makan berfungsi untuk mempertahankan, meningkatkan dan mengembalikan kesehatan yang optimal.pemilihan bahan, pengelolahan, dan pengonsumsiannya berkaitan dengan budaya individu, keluarga, dan komunitas setempat. Misalnya, wanita hamil dari suku Jawa harus dapat mempertahankan kesehatan selama hamil perlu mengkonsumsi protein, tetapi adat melarang wanita hamil memakan makanan yang berbau amis karena khawatir akan kondisi anak yang dilahirkan nanti.
            Kondisi tersebut dapat dialami berbagai suku yang dijumpai oleh perawat saat melakukan asuhan keperawatan keluarga.  

Budaya kesehatan di Indonesia
            Indonesia sebagai negara agraris sebagian besar penduduknya bermukim di daerah pedesaan dengan tingkat pendidikan penduduk mayoritas sekolah dasar dan belum memiliki budaya hidup sehat. Hidup sehat adalah hidup bersih, kebersihan belum menjadi budaya sehari-hari. Bahkan sampai saat ini, masih banyak anggota masyarakat yang menganggap bahwa orang orang miskin dilarang berobat. Hal ini, dikaitkan dengan nilai ekonomis dari obat tersebut yang tidak dapat dijangkau oleh beberapa lapisan masyarakat. Namun, dibalik itu semua, pemerintah sudah berusaha untuk memberikan subsidi keringan harga obat untuk masyarakat kurang mampu seperti Jamkesmas ( Jaminan Kesehatan Masyarakat), dll.
            Di lain pihak, banyak masyarakat yang menganggap bahwa olahraga mampu menangkal semua penyakit. Namun, apabila dipahami, hal tersebut terbatas hanya pada penyakit non infeksi karena olahraga tidak menjadikan orang menjadi kebal terhadap penyakit infeksi. Bahkan sebaliknya, penyakit infeksi akan bertambah parah apabila seseorang berolahraga. Karena itu, seseorang yang ingin berolahraga harus memiliki status sehat yakni bebas dari penyakit infeksi dan faali, alat-alat tubuhnya berfungsi normal pada waktu istirahat, kecuali bila yang bersangkutan memang akan melakukan olahraga dengan tujuan untuk penyembuhan atau rehabilitasi.
Menurut Daldiyono (2007:16) tidak semua orang sakit memiliki penyakit. Namun kenyataannya suatu rasa sakit bukan merupakan penyakit bila tidak menganggu aktivitas dan fungsi pokok, misalnya makan, minum, buang air besar, buang air kecil, tidur dan aktivitas sehari-hari lainnya




Sejarah Perkembangan Keluarga Jawa Tengah
Menurut para ahli , yang dianggap menjadi nenek moyang suku melayu, bugis, makasar,bali,sunda,dan jawa adalah suku bangsa deutero melayu yang berasal dari daerah vietnam .(semula mereka berasal dari yunan dan kemudian menetap dan berkembang di tanah dataran vietnam). Mereka datang ke indonesia pada sekitar tahun 1500 SM. Penyebaran suku bangsa deuntro melayu sangat luas . dengan kepandaianya dan ke ahlian yang di milikinya mereka berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan tidak lagi mengembara dan mengantungkan hidup pada alam .
Keluarga jawa tengah yang menetap didaerah pesisir , seperti cilacap atau ambal , menghidupi keluarga mereka dengan hasil-hasil laut,sedangkan yang menetap di pegunungan menghidupin keluarga mereka dengan bertani dan berternak .


 Aspek – Aspek  Yang Ada di keluarga Jawa Tengah
 Aspek Demografi
Jawa tengah merupakan salah satu daerah tingkat 1 atau provinsi di wilayah indonesia yang memiliki luas daerah sekitar 34.503km²,termasuk kepulauan karimun jawa di laut jawa yang masuk wilayah kabupaten jepara  dan pulau nusakambangan yang luasnya sekitar 12.400 ha  yang merupakan bagian dari  wilayah kabupaten cilacap.

 Aspek Psikososial
Perbedaan kelas sosial dalam keluarga jawa
  Menurut sosiolog koentjaranigrat , orang jawa dapat diklasifikasikan berdasarkan golongan sosial sebagaiberikut :
         Wong cilik ( orang kecil) terdiri dari petani dan mereka yang berpendapatan rendah
         Kaum priayi terdiri dari pegawai dan orang-orang intelektual
         Kaum ningrat adalah orang-orang bergaya hidup tidak jauh dari kaum priayi
Selain di bedakan berdasarkan golongan sosial , orang jawa jga di bedakan atas dasar keagamaan sebagai berikut :
        Jawa kejawen yang sering disebut abangan , yang dalam kesadaran dan cara hidup nya ditentukan oleh tradisi jawa pra-islam .kaum priayi tradisional hampir seluruhnya dianggap jawa kejawen walaupun mereka secara resmi mengakui islam .
        Santri yang memahami dirinya sebangai orang islam atau orientasinya yang kuat terhadap agama islam dan berusaha untuk hidup sesuai ajaran islam.


Aspek Budaya
        Makanan kebudayaan
Keluarga jawa memiliki beragam jenis makanan khas. Hampir di setiap kabupaten di provinsi jawa tengah mempunyai makanan tradisional yang khas. Contoh makanan yang khas di beberapa kabupaten :
Kabupaten kudus makanan khasnya dodol ,semarang makanan khasnya wingko babat , yogyakarta makanan khasnya gudek ,malang makanan khasnya getuk ,bantul makanan khasnya geplak banyumas makanan khasnya kripik tempe, dan brebes makanan khasnya telor asin.  Keluaga jawa era tahun 60-70an membedakan makanan untuk orang tua dan anak-anak .
        Kebiasaan yang dilakukan keluarga jawa
Ketika keluarga jawa membangun rumah dan akan menaikan kuda-kuda rumah,mereka mengadakan upacara sedekah bumi yang bertujuan untuk memberi keselamatan kepada yang menghuni rumah. Makanan yang disediakan pada acara tersebut ,antara lain pisang satu tandan ,buah kelapa muda,padi satu ikat, dan kain merah putih yang akan diikatkan di atas kuda-kuda rumah tersebut. Ada jga upacara adat jawa yang dilakukan orang-orang betawi: sedekah bumi,mitoni atau tujuh bulanan,aqiqah atau patang puluh dino,,

        Kesehatan menurut keluarga jawa
Sejak jaman dahulu , praktik keperawatan dalam keluarga jawa di pengaruhi oleh nilai-nilai pra-islam dan islam.
Dominasi pra- islam sangat berpengaruh terhadap praktik keperawatan keluarga jawa . praktik mengunakan orang pintar (dukun)masih mendominasi dalam menolong angota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan ,terutama dipelosok-pelosok desa.Mereka masih percaya dan yakin bahwa orang menjadi sakit karena disebabkan gangguan makhluk halus (setan), untuk mengusir mahluk tersebut dukun mengunakan mantra-mantra dalam bahasa sansekerta atau bahasa jawa kuno.selain itu jga dukun mengunakan sesaji yang berupa kembang setaman dan makanan serta membakar dupa (kemenyan).selain itu, banyak keluarga jawa yang masih mempertahankan cara pengobatan warisan leluhur yang berupa jamu/ramuan tradisional.


Mitos Air Kelapa Muda bias membuat bayi yang sedang dikandung kulitnya putih
Mitos minum air kelapa muda ketika hamil. Maka rambut bayi yang dikandung menjadi hitam dan lebat

Sebenarnya dari berbagai mitos tentang air kelapa muda dengan ibu hamil,ya ini mungkin hanya sekedar mitos karena kalau yang dijadikan acuan adalah dengan meminum air kelapa muda ketika sedang hamil maka anak yang dilahirkan nantinya akan berkulit putih jelas sulit diterima dengan akal apalagi dari segi kedokteran karena warna kulit seseorang lebih banyak tergantung sama gen orang tuanya,kalau orang tuanya berkulit hitam maka sulit untuk anaknya berkulit putih..

Begitu juga dengan mitos yang menyebutkan bahwa dengan meminum air kelapa muda bagi ibu hamil maka anak yang akan dilahirkan nantinya akan memiliki rambut yang hitam dan subur, sangat sulit untuk diterima dengan akal karena ketika orang tuanya berambut bule dan dia tinggal di daratan eropa kan jarang sekali bisa memiliki rambut berwarna hitam layaknya orang Indonesia.
            manfaat air kelapa muda menurut ilmu kedokteran, dan juga yang pernah say abaca dari berbagaisumber, yaitu air kelapa mengandung elektrolit dan antioksidan. Saat ini keadaan lingkungan yang semakin buruk, banyak polusi udara dimana-mana maka antioksidan sangat diperlukan oleh tubuh. Apalagi untuk ibu yang sedang hamil maka antioksidan ini sangat diperlukan.
Selain dari buah-buahan, antioksidan dapat diperoleh dari air kelapa. Jadi ketika bosan mengkonsumsi buah-buahan, maka ibu hamil dapat mengkonsumsi air kelapa sebagai pelengkap nutrisi ketika merasa kurang.
Selain mengandung elektrolit dan antioksidan, pengaruh air kelapa bagi ibu hamil adalah membuat air ketubannya menjadi bersih dan jernih. Kedua zat itu dapat menyerap lendir dan kotoran dalam air ketuban.


0 komentar:

Poskan Komentar